Contact InfoFeedback | Sitemap 
Search
  Home | About Us | Services | E-services | Publications | Downloads | News & Events | Careers | Useful Links  
 
   
RSS Feed Print
Salam to non Mahram (Submitted by Anonymous)
Anonymous
Posted: Wednesday, November 21, 2007 8:28 PM

Hi, I was wondering if it's right for a female to 'salam' an elder male who is not thier mahram. Eg. uncle, friend/bf/fiance's father, cousin etc. Thanks in advance!


I ASK Forum updater
Posted: Wednesday, December 19, 2007 5:53 PM

Salam :D

.

Salam 'handshaking' or any form of physical touch with non Mahram is not encouraged in Islam. Part oh the reasons are:

.

1) To avoid nullifying your Wudu'

2) To avoid any form of arousal that may be drawn by Non Mahram

3) To avoid Fitnah that may be drawn by ppl.

.

However, in certain conditions, it is allowed when:

1) The Non-Mahram is old and no sexual desire

2) Regarded as valued culture in which if one avoids it, he/she may be potrayed as rude ppl


Anonymous
Posted: Tuesday, January 22, 2008 9:00 AM

Any man with whom a woman has a relationship (of blood or fosterage) that precludes marriage, is considered a Mahram to her.

Women who a man is mahram to, include his mother, grandmother, daughter, granddaughter, sister, aunt, grandaunt, niece, grandniece, his father's wife, his wife's daughter, his mother-in-law, his foster mother (the one who nursed him), foster sisters, and any foster relatives that are similar to the above mentioned blood relatives as the Prophet (SAW) said, "What is forbidden by reason of kindship is forbidden by reason of suckling." (Al-Bukhari)

Men are considered Mahram to these women because Allah (SWT) mentioned them in the Holy Qur'an:

"And marry not women whom your fathers married, except what has already passed; indeed it was shameful and most hateful, and an evil way. Forbidden to you (for marriage) are: your mothers, your daughters, your sisters, your father's sisters, your mother's sisters, your brother's daughters, your sister's daughters, your foster mother who gave you suck, your foster milk suckling sisters, your wives' mothers, your step-daughters under your guardianship, born of your wives to whom you have go in - but there is no sin on you if you have not gone in them (to marry their daughters), - the wives of your sons who (spring) from your own loins, and two sisters in wedlock at the same time, except for what has already passed; verily, Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful." (An-Nisa 4:22-23)

All the man's female relatives mentioned in these two verses are considered he is considered Mahram to, because it is unlawful (haram) for him to marry them, except the wife's sister mentioned last, who he is not a Mahram to, because he can marry her if he divorces her sister, or if she dies. Reciprocally, if a woman is a Mahram to a man, such as her brother, her father, her uncle, etc. then he is a Mahram to her. All other relatives he can not be a mahram to and as they fall under the category of strangers to him, except one's wife or husband who are allowed


Anonymous
Posted: Tuesday, January 22, 2008 9:02 AM

Siapa Saja Mahram itu?

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya di-fathah.
Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.
Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).
Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:
1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita
2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu
4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita

Mereka inilah yang dimaksudkan Allah subhanahu wa ta'ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ
"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…" (An-Nisa: 23)
Kelompok kedua, juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan Allah subhanahu wa ta'ala:
وَأُمَّهَاتُكُمُ الاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ
"Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan." (An-Nisa 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susu itu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu. Ini menunjukkan secara tanbih bahwa suaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandung dari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama. Maka ayat ini dan hadits yang marfu':
يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ
"Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena punyusuan." (Muttafaqun 'alaihi dari Ibnu 'Abbas), keduanya menunjukkan tersebarnya hubungan mahram dari pihak ibu dan ayah susu sebagaimana tersebarnya pada kerabat (nasab). Maka ibu dari ibu dan bapak (orang tua) susu misalnya, adalah mahram sebagai nenek karena susuan dan seterusnya ke atas sebagaimana pada nasab. Anak dari orang tua susu adalah mahram sebagai saudara karena susuan, kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara (keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah.
Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.
Adapun dari pihak anak yang menyusu, maka hubungan mahram itu terbatas pada jalur anak keturunannya saja. Maka seluruh anak keturunan dia, berupa anak, cucu dan seterusnya ke bawah adalah mahram bagi ayah dan ibu susunya.
Hanya saja, berdasar pendapat yang paling kuat (rajih), yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa'di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
"Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya." (Al-Baqarah: 233)

Dan Hadits 'Aisyah radhiallahu 'anha muttafaqun 'alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.
Dan yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.
Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:
1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.
2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.
3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.
4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.

Nomor 1, 2 dan 3 hanya menjadi mahram dengan akad yang sah meskipun belum melakukan jima' (hubungan suami istri). Adapun yang keempat maka dipersyaratkan bersama dengan akad yang sah dan harus terjadi jima', dan tidak dipersyaratkan rabibah itu harus dalam asuhannya menurut pendapat yang paling rajih yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullahu.
Dan mereka tetap sebagai mahram meskipun terjadi perceraian atau ditinggal mati, maka istri bapak misalnya tetap sebagai mahram meskipun dicerai atau ditinggal mati. Dan Rabibah tetap merupakan mahram meskipun ibunya telah meninggal atau diceraikan, dan seterusnya.
Selain yang disebutkan di atas, maka bukan mahram. Jadi boleh seseorang misalnya menikahi rabibah bapaknya atau menikahi saudara perempuan dari istri bapaknya dan seterusnya.
Begitu pula saudara perempuan istri (ipar) atau bibi istri, baik karena nasab maupun karena penyusuan maka bukan mahram, tidak boleh safar berdua dengannya, berboncengan sepeda motor dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, berjabat tangan, dan seterusnya dari hukum-hukum mahram tidak berlaku padanya. Akan tetapi tidak boleh menikahinya selama saudaranya atau keponakannya itu masih sebagai istri hingga dicerai atau meninggal. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ
"Dan (haram atasmu) mengumpulkan dua wanita bersaudara sebagai istri (secara bersama-sama)." (An-Nisa: 23)
Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu muttafaqun 'alihi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mengumpulkan seorang wanita dengan bibinya sebagai istri secara bersama-sama. Wallahu a'lam bish-shawab.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As-Sa'di, Syarhul Mumti', 5/168-210)

 

 


Anonymous
Posted: Tuesday, January 22, 2008 2:42 PM

“If a Muslim male does not shake the hand of a female, the non-Muslims will think this demeans women, so let’s take the ease and shake hands with the opposite sex”. This statement is a negligent approach that falls short of the middle path.

 

The Prophet (salallaahu alaihi wassallam) said,

“I do not shake the hands of women.” (Reported by Ibn Maajah)

 

And A’isha the wife of the Messenger, stated,

“By Allaah, the hand of Allaah’s Messenger never touched another woman [other than his wives]. He used to take the pledge of allegiance of women verbally only.”

 

Shaking hands with the opposite sex is a means to temptation that may eventually lead to fornication. However, there is no harm in exchanging greetings without shaking hands, as long as alluring speech is avoided. And there is no harm in women shaking hands with immediate relatives such as their fathers, husbands and brothers.

 

The Prophet was never disrespectful towards his female disciples, yet he never shook their hands, so this is a respectful act towards women. Most non-Muslims are very understanding once this matter is explained to them, so more Muslims should make effort in explaining this affair rather than giving in, and thereby opposing the Prophetic texts and falling short. In truth a Muslim can be a responsible member of the community, without comprimising the obligations of his religion and without breaking the laws of the host country. Indeed good, upright practising Muslims become role models of good character in communities


Anonymous
Posted: Tuesday, January 22, 2008 2:43 PM

Do not give ur own fatwaa


assalamu alaikum wrwb

i wanted to ask other members of this forum to please stop giving their own fatwaas.

u can ofcourse share a fatwa of some learned scholar or mufti but do not pass on anything which u think is correct without any proper proof. so be sure and mindful that whatever u share on this site is backed by a scholarly opinion, i really like the articles of other members who post the rulings of scholars from islamqa or the fatwas of great sheikhs like ibn taymiyyah , ibn al qayyim, ibn baaz or ibn uthaymeen and so on.

even the hadees which look straightforward have a great inner meaning and needs a lot of knowledge of the quran and the deen to be interpreted. that is the reason why many of our greatest scholars have dedicated their entire lives and only then have become good muhaddiseen.

iam writing all this not to hurt anyone here but i have seen some ppl who have written some replies or answers and have made things haraam which are otherwise halaal and viceversa. and they have done this without any proof.

there are a lot of members/guests on this site who are either new muslims or young muslims and also a few who have limited knowledge of the deen (like me) who tend to take everything which they read on this forum to be correct. so its our duty to share and educate others with the most correct and authentic knowledge of the deen.

my dear members this is a very serious matter and i hope everyone understands what my point is in posting this.

i think everyone is free to give their own opinions if someone asks for a advice but not on scholarly issues.

And please refrain from posting any fatwas or rulings without authentic backing.

Thankyou all for reading this.
assalamu alaikum wrwb


Anonymous
Posted: Tuesday, January 22, 2008 3:02 PM

 


Anonymous
Posted: Wednesday, January 23, 2008 9:27 AM
Shaking hands with a non-mahram woman

This is one of the cases where incorrect social customs have taken precedence over the laws of Allaah, to such an extent that if you try to talk to people and show them evidence that this is wrong, they will accuse you of being backward, having a complex, trying to break family ties, doubting their good intentions, etc. Shaking hands with female cousins, brothers’ wives and uncles’ wives is now easier than drinking water in our society, but if we look properly we will understand the seriousness of the matter.

The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “If one of you were to be stabbed in the head with an iron needle it would be better for him than touching a woman whom he is not permitted to touch.” (Reported by al-Tabaraani, 20/212; see also Saheeh al-Jaami’, 4921). There is no doubt that this is an act of zinaa, because the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: "The eyes may commit zinaa, the hands may commit zinaa, the feet may commit zinaa and the private parts may commit zinaa." (Reported by Imaam Ahmad, 1/412; see also Saheeh al-Jaami', 4921).

Is there anyone more pure in heart than Muhammad (peace and blessings of Allaah be upon him)? Yet still he said, “I do not shake hands with women.” (Reported by Imaam Ahmad, 6/357; see also Saheeh al-Jaami’, 7054, and al-Isaabah, 4/354, Daar al-Kitaab al-’Arabi edition). And he said, "I do not touch the hands of women." (Reported by al-Tabaraani in al-Kabeer, 24/342; see also Saheeh al-Jaami', 7054 and al-Isaabah, 4/354, Dar al-Kutub al-'Arabi edition). ‘Aa’ishah (may Allaah be pleased with her) said: “No, by Allaah, the hand of the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) never touched the hand of a (non-mahram) woman. He received bay’ah (pledge of allegiance) from them by word only.” (Reported by Muslim, 3/489). Let them fear Allaah, those people who threaten their pious wives with divorce if they do not shake hands with their brothers.

We should also note that placing a barrier such as a piece of cloth is of no use; it is still haraam to shake hands with a non-mahram woman.