|
Pembentukan Keluarga BerterasAl Quran & As-Sunnah
ISLAM memandang berat dan memberi perhatian yang sangat besar dalam membina keluarga Muslim-Mukmin yang murni.
Dari kumpulan keluarga-keluarga Muslim yang murni inilah dulunya pernah terbentuk masyarakat Islam, umat Islam dan negara Islam yang disegani dan dihormati. Dengan cara inilah umat Islam dahulu menerajui dunia, sehingga umat Islam suatu ketika pernah menerajui tamadun dunia. Mereka pernah melahirkan para ulama dalam berbagai bidang keilmuan, bahkan sebahagian mereka menjadi pelopor bagi beberapa bidang ilmu yang dibanggakan oleh manusia pada masa ini seperti: Ibnu Sina, bapa Ilmu Perubatan Moden (kurun ke-11 Masehi); Al-Farabi, bapa Falsafah Islam (kurun ke-10 Masehi); Ibnul Haitham, pelopor dan pakar Optik pertama; Al-Bairuni, ahli Astrologi; Jabir bin Hayan, bapa Bidang Kimia (Kurun ke-12 Masehi) dan ramai lagi.
Umat Islam dahulu memimpin dunia di kala mereka telah berjaya menegakkan binaan kekeluargaan atas dasar yang kukuh mengikut syariat Islam yang bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah, atas dasar ketakwaan, amal kebajikan, ibadah yang penuh ikhlas, kekuatan, kemuliaan, kefahaman, cinta, kasih-mengasihani dan keikhlasan. Dengan ini semualah mereka memiliki dan menerajui dunia.
Mereka tidak memilikinya dengan kekerasan dan tamakkan harta dunia. Tetapi mereka mencapainya dengan hidayah Allah kepada kebajikan dan kejayaan. Mereka sama sekali tidak bertujuan menunjuk kuasa dan diktator, tetapi hanyalah semata-mata bertujuan membebaskan dunia dari kejahilan dan kacau-bilau.
Sekiranya sekarang kita mahu masyarakat hari ini dan generasi akan datang kembali mulia dan disegani seperti dahulu, maka kita hendaklah memandang berat pembinaan keluarga-keluarga kita di masa ini dengan membinanya atas dasar yang kukuh menurut syariat dan adab-adab Islam sepertimana yang dianjurkan oleh Kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw.
|
The Qualities of a Muslim Worker
ISLAM sets clear rules and guidelines for every aspect of a man's activities and roles. Despite having all these rules and regulations, man tends to forget some of his work. If the worker is a Muslim, his responsibility is even greater, since he is a model for other men. Describing a Muslim worker, the Quran says:
"Certainly the best of men for you to employ is he who possesses determination and honesty."
(Surah Al-Qasas, 28:26)
And the Prophet s.a.w. is reported to have said:
"He who is devoid of honesty does not possess faith".
Thus, it is incumbent on a Muslim worker to discharge his responsibilities with honesty and integrity. The worker should be conscious of his responsibilities and of his own abilities, mental resourcefulness and experience. He should also fully appraise whether he possesses the requisite physical prowess or energy and the intellectual and spiritual drive to put in hard work. He should not be waiting for material incentives to push him to work, rather he must be thankful to Allah for bestowing him the sound health and mind to earn a decent living. He should not expect more for the little work he does. Allah swt says in this regard:
"Woe to those who dole less measure than the one agreed upon are guilty, especially when they insist on the fullest measure for themselves but give in return less than what was promised."
(Surah Al-Mutaffifin, 83:1-3)
Even the Prophet s.a.w. has said that Allah s.w.t. wants that when a man accepts a responsibility, he should develop a feeling of consciousness. That is, when a worker accepts a certain task, the task is his, and he should do it with honesty, trust and full concentration.
|